TINJAUAN YURIDIS TERHADAP EKSPLOITASI SEKSUAL PADA ANAK BERDASARKAN HUKUM PERLINDUNGAN ANAK DAN HUKUM ISLAM

  • Robin Fernando Putra
Keywords: Eksploitasi Seksusal Pada Anak, Hukum Perlindungan Anak, Hukum Islam.

Abstract

Manusia pada umumnya dalam menghadapi kehidupannya sehari-hari sebenarnya telah diatur oleh nilai-nilai norma tertentu khususnya norma-norma hukum. Nilai atau norma tersebut sebenarnya bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang tertib, adil dan makmur. Namun tujuan tersebut tidak selamanya terwujud disebabkan oleh beberapa hal seperti faktor ekonomi, pendidikan, sosial dan sebagainya. Salah satu yang menghambat tujuan tersebut dan sekarang semakin marak terjadi adalah eksploitasi seksual pada anak di bawah umur. Perbuatan ini merupakan perbuatan yang keji dan akan berakibat buruk pada orang yang menjadi korban. Tindak eksploitasi seksual pada anak yang diperoleh dari data yang ditulis dalam jurnal perempuan telah memenuhi unsur-unsur perbuatan eksploitasi seksual yakni melanggar kesusilaan atau kesopanan, melakukan perbuatan keji serta perbuatan itu berkaitan langsung dengan lingkungan nafsu birahi dan kelamin. Dalam Undang-undang Perlindungan Anak, tindak eksploitasi seksual pada anak tersebut dimasukkan kepada tindak kriminal karena melanggar Pasal 81 ayat (1) dan (2), Pasal 82, Pasal 83 dan Pasal 88. Sementara dalam Hukum Islam, ada yang termasuk kepada tindak kriminal dan ada juga yang tidak termasuk tindak kriminal tergantung kepada jenis perbuatannya apakah melanggar aturan yang telah ditetapkan Hukum Pidana Islam. Adapun jenis sanksi hukum berdasarkan UU Perlindungan Anak adalah hukuman penjara dan denda. Sementara dalam Hukum Islam adalah rajam, cambuk, qishash (hukum balas kematian) dan diyat, pengasingan serta ta’zir. Kesimpulannya adalah eksploitasi seksual pada anak adalah tindakan memanfaatkan tenaga seseorang untuk dijadikan pekerja seksual secara berlebihan untuk keuntungan diri sendiri baik yang bersifat materiil atau non materiil. Menurut UU Perlindungan Anak, perbuatan eksploitasi seksual pada anak termasuk pada tindak kriminal karena telah melanggar pasal-pasal yang telah disebutkan sebelumnya dan dapat dihukum dengan hukuman penjara selama 3 (tiga) sampai 15 (lima belas) tahun dan denda sebanyak Rp.60.000.000,- sampai Rp.300.000.000,-. Sementara dalam Hukum Islam diberikan sanksi hukuman had yaitu jilid dan pengasingan bagi pelaku ghairu muhshan, sedangkan hukuman rajam berlaku bagi pelaku muhshan; sanksi hukuman qishash berupa hukum balas kematian atau pelukaan dan bila dimaafkan diganti dengan membayar sejumlah diyat; dan sanksi ta’zir yang diserahkan kepada hakim jenis dan bentuk hukumannya sesuai dengan perbuatan yang dilakukan oleh pelaku.

Published
2023-12-29
Section
Articles